Keturunan Bahagia

Wahai segenapmanusia, sesungguhnya aku

ciptakan kaliandalam patron pria bersama

 pemudi, beserta awak jadikan kalian

bersuku-ceker danberbangsa-bangsa,

(kagak lain) supayakalian saling kenal mengenal

MENGGAPAI  RUMAH TANGGA BAHAGIA

Hidup bersama kesibukan memiliki persoalannyamasing-masing. Baik buruk silih berganti. Derita cerah sesekali mendarat kadangpergi.  Begitu pula lalu kehidupanberumah-tangga. Banyak ayat yg dialami kadang kala tak seperti yang diangankansebelumnya. Tidak sedikit seseorang yg mengharapkan kebahagiaan, justrumendapatkan ketidak cocokan, kepahitan, desakan kalbu, maupun bahkan siksaan yangbukan sama sekali mental, namun pula penderitaan awak yang menyakitkan. Namun tidakjarang pula, seorang  menemukankesadaran beserta perasaan saling memerlukan sesudah sangkar tangganya dihantambadai dan badai kandang tangga, yang sanding-sanding belaka melerai danmencampakkan mereka ke berisi lembah perceraian.

Namun tidak dikit bahtera kurungan tangga  bubar beserta selesai lagi perceraian.Tengoklah Pengadilan Agama yg berkelanjutan bahana oleh perseorangan yg berperkara. Danmayoritas perkara yg diterima merupakan perkara perceraian. 

Pentingnya SalingMengerti lalu Saling Memahami

Adalah masuk akal berisi berumah tangga bilaterdapat perbedaan berisi menyikapi setiap problem lalu keadaan udara. Tapi di atassetiap tikai itu, seseorang suami beserta seseorang kawan hidup harus mempunyai tanggap salingmengerti beserta anggap saling tahu satu dan yang lainnya. Sebab sangka salingmemahami dan saling mengerti ialah kesalahan satu pilar terutama dalamberumah tangga.

Sering aku katakan kepada setiap calonpengantin yg kami bersinar-sinar, maka kandang tangga itu bagai burung yg melangit,yg mempunyai dua kapak yg mengepak secara beserta-sama. Maka bagaikan itupula kehidupan  berumah tangga. Sayapnyaadalah sejodoh suami jodoh itu badan. Keduanya wajib seperjalanan segaris dalammelangkah. Mengepak lalu-menyamai melewati pukulan dengan rintangan. Meskipun,terlalu dan, kendati kesalahan satu fihak, sebelumnya tak sefaham dan langkahyang mereka mengarungi. Untuk itulah, dibutuhkan wacana yang cantik jarak keduabelah fihak, beserta luar biasa bersama, anggap saling ingat bersama  saling tahu.

Maka Maha Suci Allah, yg telah mengajarkankita jatah saling kenal mengenal satu beserta yg lain; tercantum mengenalkekurangan lagi keistimewaan masing-masing. Dan andai ke 2 putus fihak sudah pernah mengenal, dan ridho dan apa yg dimiliki oleh pasangannya, dan sampai-sampai mau timbulrasa saling tahu. Dan saat masing-masing fihak sudah pernah saling memahami satudengan yang lain, bakal timbul perasaan saling mengerti satu lalu yang lain.

Maka andaikan suatu sekon misalnya, pendapatansuami tidak sesuai lagi apa yg diperlukan, maupun bahkan kurang dari standarbiaya menetap mereka, sang jodoh bukan bersut menyambut kepulangan suami, sangistri tidak dendam-sakit hati dan apa pun yg terdapat sang suami. Malah membesarkanhati suami, memberikan senyum begitu juga senyum saat suami membantu nafkah yanglebih.

Begitu jua andaikata saat oleh istri suatuhari masakannya tanggung gurih pada lidah suami, sang suami tidak kemudian sakit hati, pukulpiring, terjang semua ragam perkakas kurungan tangga. Tetapi suami yg faham danmengerti pada jodoh akan menyikapinya lalu penuh kearifan. ” Istriku,tidakkah ini yg lebih baik? ”, atau ” Sayang, gugat dong garamnya sedikit.” Kata-katasemisal ini pasti mau terucap lunak berawal ekspresi seseorang suami yang memahamidan mengerti akan teman hidup. Ucapan-ucapan lunak serupa sebetulnya seyogyanya selaluterucap berisi hayat berumah-tangga.

Tidakkah saya ini artinya insan yang tiadasunyi bermula meluap kekurangan? Tidakkah kita ini artinya manusia yang tidak lepasdari keliru beserta salah?

Mitsaqan Gholidzan

Dalam Kompilasi Hukum Islam, dinyatakan maka” pernikahan ialah akad yang sangat dominan atau mitsaqan gholidzan untuk mentaati titah Allah danmelaksanakannya adalah ibadah.” Dengan kicau lain pernikahan merupakanpenyatuan dua kapita dan rangkap raga dalam suatu kumpulan yg sungguh-sungguh berkuasa pada berbobot suaturuang bernama kurungan tangga. Adapun obrolan mitsaqangholidzan adalah artinya percakapan yang dicetuskan oleh al Qur’an yangmenunjukkan maka bagaimana pentingnya pernikahan itu. Bahwa dengan jalan apa pentingnyarumah tangga itu. Penting jatah dijaga. Penting untuk dipertahankan,sebagaimana simpul kawat yang terbalut dominan lagi karib .

Mitsaqan gholidzan jua memperoleh difahami sebagai tanggungjawab untuk menyempurnakan kebajikan yang bermufakat fihak suami dan fihak istri,akibatnya kehidupannya tidak dengan bebas lampau bagaikan ketika beliau belum punyapasangan. Namun berbobot daya gabung itulah, partner suami kawan hidup hendak mendapatkankebahagiaan, yg terpercik dari kelelahan bertindak apabila menafkahi anak teman hidup,yg terpercik mulai kecapean karena sudah membanding tugas melayanaisuami, maupun pula menjaga dan mengajar kanak-kanak-anaknya. Kebahagiaan detak berabe dansenang ditanggung lagi.  

Lihatlah para pekerja tani yg beraksi bantingtulang, pulang  pagi mudik petang,peluh mengalir membasahi sekujur tubuh, pada bawah terik matahari, di bawahsiraman air hujan beserta petir menggelegar. Capek ramai. Tapi tanyalah merekasaat mereka menatap bocah kawan hidup mereka dapat terseyum menghayati sajian malamoleh hasil karangan oleh suami lagi kiat halal. Tanyalah pada mereka saatmereka cek kanak-kanak mereka menemui pergi ke sekolah lalu busana sebangsa, sepatudan tas yang dibeli bermula hasil keringat mereka. Tanyalah pada mereka, adakahmereka bahagia?

Kebahagiaan terdapat di mana-mana. Di gubuk reot, dirumah mewah, pada sawah-ladang, ataupun di kabin perkantoran. Dan kekompakan dalamberumah tangga yaitu kenyamanan bersama. Kebahagiaan suami, jodoh beserta jugaanak-anaknya. Maka saat yang mencicipi kenyamanan itu belaka fihak suami,ataupun fihak istri, berarti terdapat bab yg tanggung batin (hati) kandang tangga itu.

Namun, apabila suami maupun kawan hidup pada, keluardari garis yg sudah pernah disepakati lagi-serupa, dan sampai-sampai keamanan dalam berumahtangga lambat laun hendak sirna. Berganti bersama kekhawatiran lalu kepanikan hati. Danrumah tangga tak lagi sebagi ” baitijannati”, tetapi ”baiti nari”. Rumahtangga bukan dengan nirwana, namun ibarat neraka yang demam lalu menyesakkan.Bukan hanya suami teman hidup yg merasakannya, tapi pula bocah-budak pelanjut kitayang jadi korbannya. Na’uzu bullah tsummana’uzu billah min dzalik……

Semoga saya tetap menjadi pasangan yang loyal,saling ingat dan saling memahami, dan menemui membanding tugas dantanggung jawab kita berisi berumah tangga lagi cantik dan benar. Dan semogarumah tangga kita menjadi rumah tangga yang bahagia. Rumah tangga yg sakinah, mawaddah wa rahmah; damami, damaidan suka cita, di pendek naungan nafsu iba saya lagi, serta ridha Allah SWT. Sebagaimana telahdirasakan dengan diajarkan oleh Rasulullah saw, panutan saya, ” rumah tanggakuadalah nirwana bagiku”.

Dan pada dan semua itu, ada Allah yang MahaMelihat, yg menilai semua apa yang kita lakukan bersama berikan,badan saya,untuk pasangan kita, bersama jatah bocah-bocah saya. Semoga Allah SWT. Rido beserta segalaamal baik yang kita lakukan, lalu menaruh maaf, petunjuk, lalu pertolongankepada kita seluruh…..Amiin.